-  PEMILU DAMAI DAN BERINTEGRITAS Telah Dimulai, Semoga Terpilih Wakil Rakyat Yang Memiliki Integritas Yang Tinggi Dan Mampu Membawa Amanah Untuk Bangsa Indonesia Yang Lebih Maju, Sejahtera, Adil Dan Makmur -
 

Richard Li, Mengawali Sukses Berbekal Uang Pinjaman

Dibuat oleh : Admin | Pada : 05 Maret 2012

Bermodalkan pinjaman dari sang ayah --miliarder ternama Hong Kong Li Ka-shing-- serta intuisi bisnis yang tajam, Richard Li membangun bisnisnya sendiri yang kemudian mampu menyaingi pamor sang ayah.

Majalah Forbes menilai Li sebagai investor dan pengusaha yang berani mengambil risiko dan cepat dalam memutuskan sebuah transaksi. Dengan nilai kekayaan bersih mencapai USD1,1 miliar, dia pun masuk jajaran orang terkaya di dunia.

Awal terjunnya Li ke dunia bisnis bermodalkan pinjaman ayahnya, Li Ka-shing, pada 1991 senilai USD250 juta. Dana tersebut digunakannya untuk membuat stasiun televisi satelit Star TV. Ketika itu, dia baru berusia 20 tahunan.

Terlahir sebagai anak miliarder, Li muda tampaknya mewarisi intuisi bisnis serta ketangguhan mental untuk mengambil risiko yang dibutuhkan dalam berbisnis. Li memupuk Star TV medianya hingga dijual kepada Taipan Media Rupert Murdoch senilai USD950 juta. Dana itu kemudian dikembangkannya dengan mendirikan Pacific Century Group yang berbasis di Hong Kong, dan diinvestasikan dalam bidang teknologi, properti, dan pelayanan kesehatan.

Namun, Li lebih memilih mengembangkan kerajaan telekomunikasinya sendiri yakni Pacific Century Cyber Works Ltd (PCCW) yang berbasis di Singapura. PCCW merupakan perusahaan telekomunikasi yang menawarkan aneka macam jasa, mulai dari telepon, siaran TV, dan layanan internet.

Dalam perkembangannya, perusahaan itu kemudian menjadi operator telepon dengan jaringan terbesar di Hong Kong. Pada Agustus 2000, PCCW mengakuisisi Hong Kong Telecom, menjadikannya sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di Hong Kong. Pada 2000, Li membeli Cable & Wireless HKT.

Langkah Li tersebut membuahkan sebutan baru atas dirinya yakni Superbody, yang merujuk pada keberaniannya dalam mengakuisisi perusahaan. Pada Januari 2003, PCCW membentuk anak perusahaan dengan nama Cascade. Perusahaan itu melayani PCCW dalam servis dan operasi jaringan telekomunikasi, serta menyediakan desain jaringan infrastruktur dan dukungan teknikal.

Pada 2006, pendapatan PCCW meningkat 14%. Pertumbuhan ini dikontribusi oleh pertumbuhan TV dan konten yang merupakan dua ladang utama penghasilannya yang baru, dengan pertumbuhan mencapai 71% dibandingkan tahun sebelumnya. Aset PCCW pun tercatat tumbuh mencapai USD28 miliar.

Seperti yang pernah dilakukannya dengan perusahaan televisinya, Li kemudian menjual sahamnya di perusahaan telekomunikasi tersebut kepada seorang investor Hong Kong. Dalam mengembangkan perusahaannya, Li memang tidak pernah malu untuk bermitra dengan pengusaha lainnya. Namun, pertengahan Juli lalu Richard Li kembali meningkatkan kepemilikan sahamnya di PCCW sebesar 28,7% setelah membeli 2,16 juta saham dengan nilai per saham mencapai 1,99 dolar Hong Kong. Ini ketiga kalinya Li meningkatkan kepemilikan sahamnya di perusahaan tersebut.

Channel News Asia melaporkan, peningkatan kepemilikan saham tersebut seiring dengan penolakan pengadilan Hong Kong pada April lalu atas niat Li untuk menjadikan PCCW sebagai perusahaan pribadi. Selain bidang teknologi, Li juga memiliki kepemilikan sebesar 55% pada Gedung Marunouchi yang bernilai USD400 juta di Tokyo. Pada Agustus 2006, Li juga membeli 50% saham Hong Kong Economic Journal senilai USD32,1 juta.

Dalam wawancara dengan Insight, Li mengungkapkan keinginannya untuk mengembangkan sayap bisnisnya di Asia Pasifik. Dia ingin menerapkan bisnisnya seperti Softbank asal Jepang dan CMGI asal Amerika. "Tapi, kita ingin lebih maju dibandingkan perusahaan tersebut," tegasnya.

Li memang luar biasa dan memiliki nilai lebih dibandingkan para pewaris kekayaan lainnya. Dia mampu mengembangkan kekayaan yang dilimpahkan ayahnya dengan berinovasi di bidang lain. Prestasi tersebut membuatnya dijuluki Bill Gates Asia dan Little Superman atau Superboy.

Pada 1990, wajahnya kerapkali menghiasi sampul-sampul majalah. Saat ini di usianya yang memasuki 42 tahun, namanya tetap bersinar. Li yang beberapa tahun lalu hanya dilihat sebagai putra bungsu dalam keluarga Ka-shing, kini menjelma menjadi legenda bisnis tersendiri. Dia juga menjadi salah satu pengusaha muda paling bersinar di Asia. Sudah bukan rahasia lagi bila hubungan Li dengan ayahnya tidak harmonis.

Selama bertahun-tahun, Li selalu mencoba melepaskan diri dari pengaruh sang ayah. Kisah mengenai hubungan ayah-anak itu kerap mengisi media. The Asia Mag melaporkan bahwa hubungan Li dan ayahnya tersendat karena faktor ego masing-masing. BCC menuliskan bahwa kisah hubungan antara Li dan ayahnya mirip opera sabun. Namun, publik Hong Kong memahami keinginan Li untuk melepaskan diri dari pengaruh orangtuanya.

Kini, setelah berhasil lepas dari bayang-bayang sang ayah, sebagai pengusaha Li juga termasuk rajin mengurusi hal-hal yang berbau sosial. Dia terlibat berbagai organisasi nirlaba. Dia menjabat Ketua Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) untuk bidang teknologi informasi dan telekomunikasi. Dia juga aktif sebagai anggota Center for Strategic and International Studies (CSIS), The International Advisory Board of The Center for International Development, The Global Information Infrastructure Commission, dan The United Nations Information and Communication Technology Advisory Group.

Aksi filantropi terbesarnya tercatat pada 2003 ketika ia menyumbang USD1 juta bagi korban serangan virus severe acute respiratory syndrome (SARS) yang melanda 29 negara.

Di sela-sela waktu senggangnya, pria kelahiran 8 November 1966 ini juga sering memuaskan hobinya menyelam di lautan. Dia juga mampu mengendarai pesawat. Ketika kecil, Li juga belajar bermain biola sehingga tak mengherankan jika dia kerap menyumbangkan uangnya untuk upaya pengembangan kesenian.

Walaupun telah menjadi orang superkaya, Li mengaku tidak terlalu nyaman dengan hal itu. Dia bahkan menilai kesenjangan antara orang kaya dan miskin di Hong Kong sangat lebar sehingga Hong Kong pada suatu saat bisa menghadapi instabilitas sosial.

"Jika mimpi Hong Kong menjadi hilang, masyarakat kita akan menderita," ujarnya.

Pada Desember 2006, Richard Li berpartisipasi dalam pemilihan Komite Pemilihan Hong Kong. Komite Pemilihan yang beranggotakan 800 orang memiliki kekuasaan untuk mengangkat Chief Executive untuk Hong Kong di tahun berikutnya. Karena ukurannya yang kecil dan komposisinya yang memang didesain untuk menguntungkan kalangan propengusaha serta sektor kaya, pemilihan Chief Executive Hong Kong itu dijuluki penduduk sebagai sebagai pemilihan lingkaran kecil.

Namun, tak seperti taipan tradisional China yang umumnya mendukung kalangan propengusaha, Richard Li menggunakan slogan "Demokrasi yang Sesungguhnya", yang secara implisit mengejek pemilihan lingkaran kecil yang terjadi.

Dia juga berkampanye secara langsung di jalanan Hong Kong dengan menyampaikan pamfletnya, dan juga menelpon secara pribadi para pemilih. Dia juga melakukan berbagai kegiatan kampanye dengan advokat prodemokrasi Charles Mok yang juga mencalonkan diri dalam komite tersebut.

Berkat sikap prodemokrasi yang diusung keduanya, Richard Li dan Charles Mok akhirnya memang terpilih ke dalam komite tersebut. Namun, gara-gara aksi prodemokrasi yang terang-terangan tersebut, konon Richard Li dan Charles Mok dimasukkan dalam daftar hitam politik oleh pemerintah China. (*/Harian Seputar Indonesia)

 

Source : http://ciputraentrepreneurship.com